PLN Resmikan Stasiun Pengisian Hidrogen Pertama di Indonesia

banner 468x60

JAKARTA, KATAFAKTA.COM – Sebagai upaya dari PT PLN (Persero) terkait percepatan dalam pencapaian Net Zero Emission (NZE) ada tahun 2020. Untuk pencapaian aspirasi NZE 2060 Energi Terbarukan tersebut PLN melakukan inisiatif yakni melalui pemanfaatan Hydrogen Plant.

Direktur Utama PT PLN, Darmawan Prasodjo mengatakan, pemanfaatan Hydrogen Plant saat ini sebanyak 22 unit yang menjadi Green Hydrogen Plant terbanyak di Indonesia dengan excess produksinya digunakan di Hydrogen Refueling Station (HRS) pertama di Indonesia. Dan total kemampuan produksi Hydrogen 203 tin/tahun dengan excess sebesar 128 ton per tahun.

banner 336x280

“Ini merupakan perubahan gaya hidup yang tadinya berorientasi pada masa lalu menjadi gaya hidup yang futuristik, berbasis pada sistem digital, lebih hemat dan ramah lingkungan sehingga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. Hari ini, saya resmikan stasiun pengisian hidrogen atau hydrogen refueling station (HRS) pertama di Indonesia sebagai bahan bakar alternatif ramah lingkungan yang berlokasi di Senayan, Jakarta,” ujarnya, Rabu (21/2/2024).

Darmawan menambahkan, sebelumnya PLN juga telah mendukung ekosistem kendaraan listrik juga sebagai langkah strategis mendukung program transisi energi.

“Kami sudah bangun sistem electric vehicle digital services dari home charging, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Kemudian bagaimana kita melakukan simulasi kebijakannya, kita mendukung operasionalisasinya, kami mendukung,” ujar Darmawan.

Lebih lanjut katanya, PLN juga tengah mengembangkan hidrogen hijau dari true renewable energy production dengan membangun hydrogen production di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang.

“Ada tambahan sekitar 4,3 ton per tahun. Jadi, totalnya ada 203 ton green hydrogen dari 22 pembangkit kami yang diproduksi oleh PLN,” jelas Darmawan lagi.

Berdasarkan perhitungan PLN, bahan bakar hidrogen hijau yang dihasilkan dari sisa operasional pembangkit sangat kompetitif jika dibandingkan dengan BBM. Perbandingannya, per 1 kilometer (km) mobil BBM membutuhkan biaya Rp1.300. Sedangkan mobil listrik Rp350-400 per km, dan mobil hidrogen hanya Rp276 per km.

“Biayanya hanya sekitar Rp276 saja per km. Coba bandingkan dengan biaya menggunakan BBM Rp1.300 per km. Ini yang jelas, kalau BBM ada sebagian yang diimpor. Kalau ini (hidrogen) semuanya produk dalam negeri,” tutupnya.

banner 336x280